Skip to main content
Nama                      : Eko Rojana. S.pd.I.,M.A Tempat/Tgl Lahir  : Mendahara Tengah 15-03-1991 Jenis Kelamin       : Laki-Laki Alamat                   : Jl.Palembang RT/RW                    : 006 Kel/Desa                : Mendahara Tengah Kecamatan            :Mendahara Agama                   :Islam Status                     :Bakal Kawin Ayah : M.Arsyad Ibu    :Desmawati Jenjang Pendidikan: 1. SD Mendahara Tengah: 1997-2003 2. MTs Subulussalam: 2003-2006 3. MAK Albaqiatusshalihat: 2006-2009 4. S1 IAIN Bengkulu: 2009-2014 5. S2 UIN SUKA Yogyakarta: 2016-2018 Pekerjaan 1. Dosen B.Arab STIT SB Pari...

Jihad Ilmiah Part 17 - Masyarakat Madani Sebagai Pencerahan


Oleh: Eko Rojana,S.Pd.I,M.A

Obsesi masyarakat madani ialah mewujudkan masyarakat yang adil dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Masyarakat madani sebagai sarana pencerahan tidak dapat dilepaskan dari wacana sekularisasi, karena di dalamnya dibicarakan elemen yang perlu mendapatkan ruang dan fungsi.

Persoalannya kemudian adalah kecurigaan besar atas makna sekularisasi yang sering diartikan sebagai pemisahan agama dari hal-hal yang bersifat profane (duniawi). Tentu saja sekularisasi yang dimaksud pada tataran ini menyangkut pembagian wilayah. Agama harus memberikan ruang pada hal-hal yang bersifat profan dalam masyarakat tetapi tetap merunjuk dan bersandar pada nilai-nilai agama.

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu diasingkan dari agama atau sebaliknya, seperti yang terjadi pada masa aufklarung, Auguste Comte, dan sebaganya di mana dianggap sebagai penghambat bagi kemoderenan.

Masyarakat Barat  sendiri, yang lebih banyak dianggap sebagai pengusung sekulerisasi, pada akhirnya mengakui bahwa peran agama sangat besar dalam proses demokratisasi. Karena itu, diperlukan kejelian untuk melihat makna sekulerisasi ini dapat perbedaan antara akar-akar tradisi dan moderinitas. Sebab kesalahan dalam melihat persoaalan ini bisa berakibat fatal.

Dalam konteks Indonesia, yang diperlukan adalah pengayaan variasi dan spectrum pada tingkat elemen-elemen yang memperkuat peoses pencerahan enlightenment, seperti pada lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sebutlah misalnya NU, Muhammadiyah, LSM, dan sebagainya. Harus diakui bahwa pada setiap elemen-elemen ini ada nilai yang bersifat universal dan particular.

Pencerahan pada tataran visi, menurut AS. Hikam, dimaksudkan untuk menghindari adanya kecendrungan pratikularistik yang sangat berorientasi pada penguatan identitas individu atau kelompok. Padahal, pada komunitas universal, sehingga komunitas menjadi identitas akhir.

Agak berbeda dengan Nurcholis Majid dan Dawam Rahardjo yang masih menganggap representasi sebagai alternatif values di dalam masyarakat madani.

Kata masyarakat madani relatif sudah mulai popular di Indonesia, yang maksud adalah suatu masyarakat yang menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kemerdekaan dan ketrbukaan. Dari segi ini masyarakat madani sama dengan civil society meskipun dalam beberapa segi kedua ini tidak identi.

Jika yang dimaksud masyarakat madani seperti dijelaskan di atas, maka sejumlah ayat alquran dapat dikemukakan, antara lain sebagai berikut:

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (QS. Al-Baqarah: 148).

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS. Al-Maidah: 48).

Jadi, dalam urusan agama, yang penting bukan persatuan dan kesatuan tetapi bagaimana belajar dan membiasakan berbeda pendapat. Mungkin ini yang penting dalam upaya menumbuhkan masyarakat madani di tengah pluralisme keagamaan, seprti di Indonesia. Unsur dominan dalam setiap agama dan kitab suci ialah kemanusaiaan, kedamaian dan pencerahan. Jika ada penafsiran agama yang menyerukan sebaliknya sungguh perlu ditinjau kembali.

Comments

Popular posts from this blog