Nama : Eko Rojana. S.pd.I.,M.A Tempat/Tgl Lahir : Mendahara Tengah 15-03-1991 Jenis Kelamin : Laki-Laki Alamat : Jl.Palembang RT/RW : 006 Kel/Desa : Mendahara Tengah Kecamatan :Mendahara Agama :Islam Status :Bakal Kawin Ayah : M.Arsyad Ibu :Desmawati Jenjang Pendidikan: 1. SD Mendahara Tengah: 1997-2003 2. MTs Subulussalam: 2003-2006 3. MAK Albaqiatusshalihat: 2006-2009 4. S1 IAIN Bengkulu: 2009-2014 5. S2 UIN SUKA Yogyakarta: 2016-2018 Pekerjaan 1. Dosen B.Arab STIT SB Pari...
![]() |
| Eko Rojana,S.Pd.I,M.A |
Pertanyaan yang mengusik dari ayat di atas, mengapa Allah Swt
memperjalankan hamba-Nya di malam hari (lailah), bukan di siang hari (naharan).
Dalam bahasa Arab kata lailah mempunyai beberapa makna. Ada makna
literal bearti malam, lawan dari siang. Ada makna alegoris seperti gelap atau
kekegalapan, kesunyian, keheningan, dan kesyahduhan; ada makna anagogis (spiritual)
seperti kekhusukan (khusu’), kepasrahan (tawakkal), kedekatan (taqarrub)
kepada Ilahi.
Dalam syair-syair klasik Arab, ungkapan lailah lebih banyak
digunakan untuk makna alegoris (majas) ketimbang makna literalnya, seperti
ungkapan syair seseorang pengantin baru: Ya laila thul, ya shubh qif (wahai
malam bertambah panjanglah, wahai subuh berhentilah).
Kata lailah di dalam bait kesyahduhan, keindahan,
kenikmatan, dan kehangatan sebagaimana disarankan oleh para pengantin baru,
yang menyesali pendeknya malam.
Dalam syair-syair sufistik orang bijak (hukama) juga lebih
banyak menekankan makna anagogis kata lailah. Para sufi lebih banyak
menghabiskan waktu malamnya untuk mendaki (taraqqi) menuju Tuhan. Mereka
berterima kasih kepada lailah (malam) yang selalu menemani kesendirian
mereka.
Perhatikan ungkapan Imam Syafi’i: Man thalabal ula sahrial
layali (barangsiapa yang menambakan martabat utama banyaklah berjaga di
waktu malam). Kata al-layali di sini berarti keakraban dan kerinduan
antara hamba dan Tuhan-Nya.
Makna lailah dalam ayat pertama surah Al-Isra di atas
menunjukkan makna anagogis, yang lebih menekankan aspek kekuatan spiritual
malam (The power of nigt). Kekuatan emosional sepiritual malam hari yang
di alami Rasulullah, dipicu oleh suasana sedih yang sangat mendalam karena sang
istri sekaligus pelindungnya, Khadijah baru saja pergi untuk selama-lamanya.
Rasulullah memamfaatkan suasana duka di malam hari sebagai kekuatan
untuk bermunajat kepada Allah Swt. Kesedihan dan kepasrahan yang begitu
memuncak membawa Rasulullah menembus batas-batas sepiritual tertentu, bahkan
sampai pada jenjang puncak bernama Sidratul Muntaha. Di sanalah Rasulullah diinstal
dengan sepirit luar biasa sehingga malaikat Jibril sebagai panglima para
malaikat juga tidak sanggup menembus puncak batas sepiritual tersebut.
Seandainya saja Rasul tidak menyinergi positifkan antara kesedihan
puncak dan suasana malam hari, belum tentu Rasulullah mengalami peristiwa Isra
Mikraj malam itu. Namun karena ini sudah rekayasa Tuhan maka tidak perlu kita persoalkannya
secara logika, karena tidak akan nyambung.
Kedahsyatan malam hari juga digambarkan Tuhan di dalam Alquran:
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu
ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang
Terpuji. (QS. Al-Isra {17}: 79).
Dalam ayat lain juga disebutkan: Mereka sedikit sekali tidur di waktu
malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah. (QS.
Adz-Dzariyat{51}: 17)
Kata lailah dalam ketiga ayat di atas mengisyaratkan malam
sebagai rahasia untuk mencapai ketinggian dan martabat utama di sisi Allah Swt.
Seolah-olah jarak sepiritual antara hamba dan Tuhan lebih pendek di malam hari.
Ini mengingatkan kita bahwa hampir semua prestasi puncak sepiritual terjadi di
malam hari.
Ayat pertama (QS. Al-Alaq {96}: 1-5) diturunkan di malam hari, ayat
tersebut sekaligus menandai pelantikkan Muhammad saw, sebagai Nabi di malam
Hari. Tidak lama kemudian turun ayat surah Al-Muddatstsir yang menandai
pelantikan Muhammad sebagai Nabi sekaligus Rasul menurut ulama Qur’an.
Peristiwa Isra dan Mikraj, ketika seorang hamba mencapai puncak
maksimum (sidratu al-muntaha) juga terjadi di malam hari. Yang tidak
kalah penting, ialah lailat al-qadar khairun min alfi syahr (malam
lailatul qadr lebih mulia dari ribuan bulan), dan bukannya siang hari Ramadhan
(nahr al-qadr).
Malam hari memang menampilkan kegelapan, tetapi bukanlah kegelapan
malam itu menjanjikan sebuah keheningan, kesenduan, kepasrahan, kesyahduhan,
kerinduan, kepasrahan, ketenangan, dan kekhusukan. Suasana batin seperti ini
amat sulit diwujudkan di siang hari.
Maka dari itu perjalanan Israk dan Mikraj Nabi Muhammad yang maha
dahsyat itu dilakukan di malam hari. Intensitas perjalanan malam beliau tidak
perlu diragukan. Nabi pada umumnya melakukan perjalan jauhnya di malam hari. Di
samping lebih dingin juga nuansa ibdahnya lebih kental.
Sebenarnya peristiwa Isra dan Mikraj mempunyai dua macam peristiwa:
Pertama, perjalanan horizontal dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha. Dan kedua,
perjalanan vertikal dari Masjid Aqsha ke Sidratul Muntaha. Perjalanan Isra bisa
dideteksi dengan sains dan teknologi, tetapi perjalanan Mikraj sama sekali di
luar kemampuan otak pikiran manusia.
Sementara juga masih diperdebatkan apakah berangkat ialah fisik dan
roh Rasulullah atau rohani beliau saja. Mayoritas ulama sunni memahami bahwa
yang diperjalankan Tuhan ke Sidratul Muntaha ialah Nabi Muhammad saw, Secara utuh,
lahir dan batin, fisik dan roh. Sementara pendapat lain memahami hanya
rohaninya saja. Bagi kita tidak terlalu penting untuk mempersoalkan apakah
fisik dan roh atau hanya fisik saja, karena perjalanan suci tersebut bukanlah
kehendak dan keinginan Rasulullah, tetapi kehendak dan keinginan Allah ‘Aza wa
Jalla.
Perjalanan singkat itu berhasil merekam pemandangan yang sangat
mengimbarakan sekaligus pemandangan yang sangat menyedihkan. Yang jelas
peristiwa Isra dan Mikraj berlangsung di malam hari tanpa sedikit pun masalah
yang dialami Rasulullah.

Comments
Post a Comment